Dongeng Ular Besi dan Sepeda Motor

Syahdan menurut sangngibul hikayat, suatu ketika sepeda motor berhenti sejenak di dekat rel kereta. Tiba-tiba ular besi melaju dengan gagahnya sambil tertawa dan membunyikan terompetnya keras-keras.

Sepeda motor terkejut dan hampir jatuh. “Jangan sombong kamu ular besi. Kalau berani ayo adu balap denganku,” tantang sepeda motor. Mendengar tantangan itu, ular besi langsung menghentikan lajunya.

“Beraninya kamu menantangku. Aku ini kereta cepat, siapa manantang aku sikat,” ucap ular besi sombong.

“Tak perlu banyak bicara, besok pagi kita buktikan saja. Ayo adu cepat menuju Stasiun Kota,” kata sepeda motor.

“Siapa takut,” sahut ular besi.

Keesokan harinya, mereka bertemu di stasiun Depok Lama. Ular besi bersiap di rel kereta, sepeda motor bersiap di jalan raya.

“Apa kalian sudah siap?” teriak pengawas gendut. Keduanya menyembunyikan klakson keras-keras.

“Dor! Dor! Mulai!” teriak pengawas gendut sambil menyulut petasan.

Keduanya langsung tancap gas melaju kencang menyibak tantangan. Ular besi melaju cepat tanpa halangan. Setelah sekian waktu, ular besi menyembunyikan klakson dan menoleh ke jalan raya. Ular besi tersenyum melihat kemacetan jalan raya. Ah, pasti sepeda motor sedang kerepotan menyibak kemacetan.

Ular besi berhenti di sebuah stasiun dan memanggil sepeda motor, “tor, motor kamu ada di mana?”

“Ya, aku di sini,” sahut sepeda motor sambil membunyikan klakson.

Ular besi terkejut dan kembali melaju sekuat daya. Saat berhenti di stasiun berikutnya, ular besi kembali mengajukan tanya: “tor, motor kamu ada di mana?”.

“Ya, aku di sini,” sahut sepeda motor sambil membunyikan klakson.

Begitulah seterusnya. Ular besi sampai panik karena sepeda motor selalu bisa mengimbangi lajunya.

Hingga sesampainya di stasiun kota, ular besi mendapati sepeda motor sudah nongkrong sambil minum es doger. Rupanya, ular besi salah duga. Sepeda motor sudah menyusun strategi untuk mengalahkan ular besi. Ternyata sepeda motor sudah pernah membaca dongeng Si Kancil dan Siput.

“Jadi ular besi kalah ya Pak?”

“Begitulah nak, makanya jadi anak jangan sombong. Sekarang kamu bobok ya,” ucap sang ayah kepada Fahmi anaknya.

Si Fahmi kecil kemudian bobok lelap mendekap mimpinya.

Depok, 31 Desember 2014

Setiyo Bardono, seorang TRAINer, penulis buku antologi puisi Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta dan novel krl Separuh Kaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *