Romansa di Kepadatan Kereta (1)

Oleh: Bibin
(Disclamer: cerita ini fiksi semata. Jika terdapat fakta, yakinlah itu semua terjadi hanya karena kebetulan)

Pagi tadi tidak semenarik pagi-pagi yang telah lalu. Pagi tadi mesti naik kereta dengan jadwal yang berbeda. Hari ini tidak perlu ke kantor tapi langsung ke tempat klien.

Terasa nyesek. Ada yang hilang. Berbilang hari selalu bersama. Berdiri di tempat yang sama, waktu yang sama. Gerbong kereta yang sama, pintu yang sama, bahkan pegangan tangan yang sama. Berbagi cerita.

Seperti juga penumpang yang lain, aku selalu naik kereta ini di jam yang sama, gerbong yang sama, bahkan pintu yang sama. Bahkan selalu berbelok ke kiri, meski tidak selalu dapat pegangan yang sama. Ya terutama di Senin pagi, yang entah kenapa selalu saja lebih padat dari waktu yang lain.

Ya tidak selalu sih terutama kalau kereta hanya sependek titit bayi, enam gerbong. Jadinya di gerbong terakhir. Gerbong khusus wanita. Tempat yang sebetulnya tidak aku sukai.

‘Duluan ya. Tiati.’ Itu pesan di watshapp tadi pagi. Kini aku ingat-ingat awal perjumpaan kami.

Kereta datang dan aku melangkah naik, berdiri di tempat yang biasa. Tak padat pagi itu. Tak banyak penumpang. Pagi itu sebetulnya sama dengan pagi yang sudah-sudah. Hingga.

Sapaannya halus.

“Di sini saja.” Aku menoleh, kubalas senyum.

Bapak itu berdiri di belakangku. Tidak mepet ini kereta lumayan longgar. Ya masih longgar karena belum lewat Pondok Ranji.

“Agak longgar ya”. Tetap halus sapaannya. Aku bisa diam saja sebetulnya. Pun basa basi tapi bentuk perhatian tak pernah basi. Aku menoleh. Senyum.

“Ya belum Pondok Ranji aja”. Artinya kita harus siap padat selewat itu stasiun.

“Gak kayak pas kapan itu. Udah lari-lari tapi gak bisa masuk. Iya khan?”

Oh bapak itu lihat juga tiga hari yang lalu ketika aku menuju pintu gerbongku dan orang yang sudah di atas tidak ada yang menggeser sedikit buat aku berdiri. Aku tak terbawa ketika pintu kereta tertutup.

“Kok bapak tahu. Bapak dimana?”

“Saya…” Terusan kata-katanya tak hinggap di telingaku. Pintu terbuka dan masuk rombongan penumpang Pondok Ranji. Bapak itu terdesak.

Aku merapat ke pegangan. Backpack di depan membuat harus ada jarak dengan penumpang duduk kecuali mau desak mukanya. Ini posisi paling enak. Juga strategis kalau ada yang duduk terus mau turun.

-o-

Kereta ke Tanah Abang datang. Aku sengaja naik ke arah balik agar dapat duduk. Berhenti lamunanku.

Duduk pasang earphone tenggelam aku di Always-nya Bon Jovi. Satu lagu belum habis pintu kereta terbuka. Berhamburan itu penumpang dari Stasiun Tanah Abang. Semua menunjukkan energi terakhirnya buat dapat duduk. Mereka yang masih bingung pilihan kanan atau kiri, clingukan, tidak bakal kebagian duduk. Sekejap saja tempat duduk penuh. Ya sekejap.

Sesosok pria terlihat keuletan dan kesabarannya berdiri depanku.

“Ah bapak” Kok suaraku jadi antusias dan getar. Dia senyum lembut sambil taruh tas di rak kereta.

Aku cerita kalau lebih sering naik ke arah Tanah Abang dulu. Cari duduk meski nambah 20 menit dibanding kalau langsung. Lumayan buat istirahat buat sedia energi di rumah nanti.

Bapak itu cerita tidak cari duduk karena yakin banyak yang lebih butuh. Pun duduk pasti juga bakalan dikasih yang membutuhkan. Tiga puluh hingga empat puluh menit berdiri bukan masalah.

Kami tenggelam dalam berbagai cerita. Juga cerita tentang buku. Dia punya koleksi novel dan komik. Sidney Sheldon lengkap. Bukan cuma itu dia bisa cerita tokoh-tokoh di novel yang aku juga sudah baca. Kita jadi akrab. Aku berharap suatu saat boleh pinjam novel dan komiknya.

Suaranya halus tapi ada tekanan setiap kali menyampaikan sikapnya. Tawanya renyah.

Ramai kami cerita hingga: “Kalo ada teman ngobrol perjalanan jadi tidak terasa. Boleh kenalan?”

“Saya Ardi”

“Riki. Rikiani”

Setiap kali harus memperkenalkan diri aku selalu jengah. Selalu aku ceritakan kalau nama itu akibat salah petugas kantor catatan sipil. Nama yang tercetak di akte bukan yang diinginkan orang tuaku.

‘Maunya bapak waktu itu namamu Rizkiani, soalnya kamu tuh di kandungan saja sudah ngasih banyak rejeki.’

Kesalahan nama itu baru berakibat ketika aku bekerja. Ketika mulai dipanggil ibu. Ibu Rikiani.

‘Ya ialah. Gimana gak kesel coba kalau jadinya begini: ‘Pagi Bu Rik. Bu Rik bisa minta bantuan’. Saya tahu itu tanda menghargai tapi jadi ‘burik’ gitu’.

Meski ada juga sih yang ‘Terima kasih Bu Riki’ apalagi jika di email: ‘Dear Ibu Riki’. Begitu cerocosku.

‘Nama itu ya doa. Pun doa ditulis secara salah Yang Di Atas tahu maksud doa itu. Dia Maha Tahu. Buat apa menggerutui. Hidup terlalu singkat untuk diisi gerutuan tak tentu’

“Atau pilih panggil Ibu Ani ? Sayangnya ‘Ibu Ani’ sedang tidak bagus karena satu Ani beberapa kali menunjukkan emosinya di sosial media.”

“Ha…ha….ha….ha…ha…ha…” meledak tawa kami berdua sambil mengikuti arus penumpang turun di Sudimara.

“Di rumah saya dipanggil ‘Riki’ Pak dan gak masalah”. Entah mengapa hari ini aku bisa menghilangkan kejengahan yang selama mengganggu.

Kami berpisah. Bapak itu harus menunggu kereta jalan karena dia harus menyeberang rel untuk ke pintu keluar. Aku jalan ke pintu keluar dengan langkah ringan. Entah mengapa.

(Tunggu episode berikutnya. Silakan beri komentar, bisa jadi komentar itu nanti jadi bagian cerita).

One thought on “Romansa di Kepadatan Kereta (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *