Take Pictures: Berkelana Menuju Maja Menggunakan @CommuterLine

Sebagai pengelola situs, saya selalu berusaha untuk memperbarui informasi yang ada di situs, terutama informasi mengenai stasiun – stasiun KRL. Untuk Brown Line (Duri – Tangeran) dan Central Line (Manggarai – Jakarta Kota) semua stasiun sudah saya perbarui informasinya. Sementara untuk Green Line (Maja/Parungpanjang/Serpong – Tanah Abang) baru sebagian berhasil saya perbarui. Sementara dari Pasar Senen – Bekasi, Manggarai – Bogor, dan juga Citayam – Nambo belum selesai saya kerjakan proses pembaruannya. Nanti – nanti saja kalau ada waktu, maklum saja sebagai buruh kumpeni waktu adalah hal yang mahal buat saya.

Saya nggak berminat jadi David Brewer yang mempunyai koleksi foto seluruh stasiun di Inggris, saya cuma berminat untuk mengambil foto tiap – tiap stasiun CommuterLine dan menambahkan sedikit informasi tentang stasiun tersebut. Gambar saya tentu saja tidak sebaik fotografer professional, maklum tukang foto amatiran dan mengambil foto hanya dengan kamera ponsel. Maklumlah, di seluruh stasiun – stasiun @CommuterLine berlaku larangan tidak tertulis tentang pengambilan foto dengan menggunakan kamera DSLR.

tumblr_o887hvRik21rkfwdio1_1280

Jadi pagi itu, saya sengaja berangkat dari Serpong dengan tujuan Parungpanjang, Cilejit, Daru, Tenjo, Tigaraksa, Cikoya, dan berakhir di Maja. Yang saya tahu, jadwal CommuterLine antara Parungpanjang dan Maja tidaklah banyak. Karena itu saya harus berangkat pagi – pagi sekali untuk mengambil gambar di stasiun – stasiun tersebut.

Berangkat dari Stasiun Serpong dan kebetulan @CommuterLine yang saya naiki adalah tujuan parungpanjang, sementara CommuterLine untuk tujuan Maja masih berada di Tanah Abang. Saya masih punya waktu untuk mengambil foto – foto di Stasiun Parungpanjang tanpa kuatir akan ketinggalan KRL ke Maja.

Sesampainya di Stasiun Parungpanjang saya menemukan peristiwa unik. Karena kereta yang saya naiki adalah kereta no 2 dari depan, jadi saya turun persis di ujung peron. Disitu, ternyata banyak orang lalu lalang melintasi area stasiun Parungpanjang dan para PKD berjaga diujung dengan mata awas agar tak ada orang yang tiba – tiba nekat berjalan ke arah peron. Saya baru tahu, meski stasiun Parungpanjang dibangun dengan biaya mencapai Rp. 20 M, ternyata tidak juga clear dari lalu lintas manusia. Maklum, stasiun ini lokasinya bersebelahan dengan lokasi Pasar Parungpanjang.

Saya lalu melangkahkan kaki untuk mengambil beberapa foto Stasiun mewah ini dan mencatat beberapa detail yang diperlukan. Logo Kemenhub sebagai pemilik proyek terpampang besar di Stasiun Parungpanjang. Sayangnya di lobi atas stasiun justru tidak tersedia bangku, mungkin nanti kalau ada sudah ada tenant yang menyewa lobby stasiun.

  A photo posted by Fajar Eko Prasetyo (@fajareko123) on

Sejujurnya saya agak heran kenapa pemerintah membangun stasiun yang sangat megah ini. Bukan apa – apa sih, tapi stasiun semegah ini mestinya dibangun di Stasiun Transit seperti Tanah Abang, Duri, dan Manggarai yang memang butuh ruang lebih lega untuk pergerakan para penglaju yang mau transit. Lagipula gembar gembor stasiun ini dibangun agar ramah terhadap difabel juga perlu ditanyakan validitasnya kembali.

Perjalan kembali saya lanjutkan untuk menuju stasiun berikutnya sampai ke Maja. Sepanjang mata memandang, cuma ada persawahan dan bukit –bukit. Dalam hati saya berkata, 15 tahun lagi perjalanan ke Maja akan berbeda, bisa jadi persawahan yang saat ini saya lihat akan berubah menjadi pemukiman – pemukiman kelas menengah.

Seperti biasa, menyinggahi stasiun – stasiun dan mengambil beberapa gambar. Tak ada stasiun yang cukup istimewa sebenarnya kecuali mata saya tertumbuk pada Stasiun Tenjo. Saya tidak tahu kapan stasiun ini ada, tapi bagian depan dari Stasiun Tenjo telah dibenahi agar terlihat lebih modern. Namun, ternyata stasiun Tenjo adalah stasiun bebas. Maksudnya orang bisa keluar masuk areal stasiun dengan bebas. Tak ada penjagaan PKD yang begitu ketat.

 

A photo posted by Ilham Khalid Setiawan (@ilhamks2) on

Mungkin karena penduduk disini pada jujur, sehingga tak diperlukan penjagaan PKD seperti di Stasiun Parungpanjang. Sayangnya dari stasiun – stasiun sepanjang Parungpanjang hingga ke Maja, ini adalah satu – satunya stasiun yang tidak ada atap di peronnya.

  😗😗😗   A photo posted by Qhusnul Qhatimah (@qhusnulqh) on

Sampailah saya ke Stasiun Maja, saat ini merupakan salah satu stasiun terminus dari perjalanan @CommuterLine di Green Line. Mata saya tertumbuk pada sebuah danau yang letaknya bersebelahan dengan Stasiun Maja. Danau yang cantik, mudah-mudahan danau ini akan tetap ada sehingga membuat pemandangan di Stasiun Maja sedikit lebih baik.

Stasiun Maja juga merupakan bangunan baru yang dibangun oleh Kementerian Perhubungan, bangunan megah di depan Pasar Maja ini kurang lebih juga menghabiskan biaya Rp. 20 M. Biaya yang cukup besar sebenarnya. Tak jauh dari stasiun ini, sebuah perumahan kelas menengah juga sedang dibangun, bisa jadi ini penyebab pembangunan stasiun Maja menjadi sangat megah dan mewah.

Yang saya takutkan adalah kondisinya akan seperti Stasiun Serpong yang di 2007 bahkan diresmikan oleh Presiden SBY. Kala itu, stasiun Serpong terbilang megah dan mewah ketimbang stasiun – stasiun lainnya. Tapi seiring waktu kemegahannya memudar. Barangkali benar, kita biasanya mudah membangun tapi sulit merawat. Stasiun Palmerah yang baru saja diresmikan juga mengalami nasib sama, beberapa kali toilet stasiun Palmerah tak ada air.

Mudah – mudahan, seluruh stasiun yang baru saja direnovasi akan tetap dipelihara dengan baik, supaya perjalanan penumpan semakin nyaman dan juga aman

6 thoughts on “Take Pictures: Berkelana Menuju Maja Menggunakan @CommuterLine

  1. sekarang mah sudah lebih nyaman dibandingkan dulu kereta ini, aku juga merasakan perubahannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *