Tempat Sendu untuk Mengenang Mantan di Stasiun Kereta

Mantan
Mengenang mantan di stasiun kereta bisa menghadirkan kesan berbeda. Namun tak perlu terlalu risau, sebab bisa mengenang mantan berarti kan pernah pacaran. Jangan tersinggung mblo. Eh.

Berikut lokasi yang bisa dipilih saat mengenang mantan di stasiun kereta.

Peron Stasiun
Agar bisa mengenang mantan dengan tenang, hindari jam-jam sibuk. Sambil berdiri sendiri di peron kita bisa merenungi rel kereta, yang selalu beriringan namun tak bisa menyatu. Begitulah jalan hidup rel kereta, hanya bisa saling memandang tanpa bergandengan tangan. Sebuah pengorbanan besar agar kereta bisa berjalan.

Mengenang mantan membuat angan-angan melayang. Tapi ingatlah selalu pada garis kuning di lantai peron. Jangan berdiri melewati batas aman, apalagi kalau mantan sudah ada yang punya.

Ketika akan beranjak meninggalkan peron untuk naik KRL, jangan lupakan pesan: Periksa kembali barang kenangan mantan, jangan sampai tertinggal walaupun merasa kehilangan.

Bangku Panjang
Setelah dipotong-potong, rel kereta bisa berdekatan dalam wujud bangku panjang. Luka telah merekatkan hubungan keduanya. Di bangku panjang, sepasang rel yang telah pensiun saling berbagi Cerita Luka Bangku Kereta (CLBK).

Mengingat riwayat tersebut, mengenang mantan di bangku panjang akan menyeret kenangan sendu. Seperti saat rel kereta bersandar di hamparan batu. Namun terselip pula harapan: rel kereta pun bisa disatukan. Jika Tuhan sudah berkehendak, semuanya bisa terjadi.

Mantan bisa tiba-tiba datang membawa luka. Dan luka bisa merekatkan kembali cinta. Siapa tahu ada kesempatan buat CLBK. Halah. Tapi ingat jangan garis lewati batas aman. Perlu banyak pertimbangan sebelum menentukan sikap. Kembali sebagai teman bisa saja justru lebih nyaman. Halah yang bener.

Sandaran Jemuran Handuk
Inilah cara modern mengenang mantan. Bersandar di jemuran handuk hasil studi banding ke manca negara yang belum lama terpasang di peron stasiun.

Saat bersandar kita akan teringat kenangan yang hilang bersama raibnya bangku panjang. Saat bersandar kita bisa teringat pada sandaran hati yang telah pergi. Ah sendu sekali.

Apalagi ketika ada kereta datang dengan roda berderak: mantan… mantan… Kemudian dibelakangnya merapat kereta galon, gagal move on… gagal move on…

Tukang Gorengan di Luar Stasiun
Mungkin ini tempat yang pedih untuk mengingat lapak-lapak eh mantan yang tergusur. Nuansanya bertambah mellow saat teringat masa-masa awal ditinggal mantan tanpa alasan jelas. Hati seperti gorengan yang tercabik-cabik gunting tajam kemudian dikucurin sambal. Oh gorengan, betapa pedihnya. hiks-hiks. Halah

Tapi gorengan juga mengajarkan kita, walaupun kepedesan saat makan, tapi kita tidak kapok untuk mengulang. Walah pedih ditinggal mantan, tak ada alasan terpuruk dalam kesedihan. Semua bisa dimulai lagi dari awal. Halah.

Sebetulnya ada tempat lain yang tak kalah sendu misalnya gerai kopi atau resto cepat saji. Namun jangan sampai kesenduannya berlipat: sudah sedih memikirkan mantan eh masih harus bayar banyak tagihan. Halah. Alamat ninggal KTP nih.

Begitulah, ada banyak hal yang bisa kita renungkan di stasiun kereta (tumben serius mbah). Saat kereta berhenti dan membuka pintu, serupa mantan pernah memberi kesempatan. Terlalu banyak pertimbangan bisa menyebabkan kehilangan kesempatan. Pintu akan segera tertutup, kereta harus melanjutkan perjalanan.

Namun tak perlu risau, sebab akan masih ada kereta lain yang akan lewat. Dan ketika kesulitan memasuki kereta, ingatlah pesan tukang halo-halo: Jangan terpaku pada satu pintu, menyebarlah pada pintu-pintu lain yang terbuka.

Depok, 26 April 2016
Salam Halah
Setiyo Bardono, penumpang KRL kelahiran Purworejo bermukim di Depok. Penulis buku puisi Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta dan Mimpi Kereta di Pucuk Cemara. Novel karyanya: Separuh Kaku juga berlatar kehidupan KRL.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *