Count Me In, Asal Jangan Ngaret Lagi Ya…


Temanya memang berat justice dan hukum, tapi tujuan utama turnya adalah mengenalkan kalau Jakarta punya segudang tempat wisata yang bisa dijangkau dengan cara mudah dan murah. Jadi meski dibalut dengan tema justice, tetap saja tujuan dari beberapa teman adalah jalan – jalan plus mungkin beberapa teman berminat untuk menambah teman.

Lalu, gimana pikiran dari sebagian teman – teman yang ikut dalam tur ini? Apa mereka having fun atau gimana? Yang jelas, dari yang hanya berniat awal memenangkan kuis tapi malah berakhir dengan manis.

Apa yang membuat kamu tertarik untuk mengikuti #JJHT?

Wahyu Widyaningrum: Dari dulu selalu bercita-cita bisa mengunjungi semua museum dan gedung bersejarah di Jakarta. Tapi cita-cita ini terkendala beberapa hal: a. nggak tau tempatnya dan transportasi ke lokasinya, b. susah banget cari teman yang mau diajak ke museum. Alhasil, hampir dua tahun di Jakarta baru bisa berkunjung ke 3 museum. Waktu baca info #JJHT yang nggak sengaja melintas di TL gara2 di-RT @nukman (bener gak ya?), langsung meluncur ke websitenya dan berpikir: saya HARUS ikutan acara ini.

Fifin Haryadi: Pertama sekali jujur saya mengikutinya karena saya memenangi kuis yang diadakan, 🙂 tapi jujur saya belum tahu sebelumnya kalau ada tour tersebut, perkiraan saya seperti biasa, kalau menang kuis tinggal kita ambil sendiri hadiahnya. Malahan hadiah tersebut selain e-tiket, kaos dan notebook dari klinik hukum saya berikan ke teman yang lain, karena saya sudah tidak tertarik lagi dengan hadiah tersebut, karena saya sudah mendapatkan lebih dari hadiah tersebut yang bernilai lebih dari kedua hadiah tersebut.

Christal Setyobudi: Saya tertarik tahu lebih jauh dengan sejarah Indonesia berkaitan dengan hukum

Ruth Esterina: Awalnya diajak sama saudara ikut #jjht kebetulan juga tertarik sama hal-hal yang berbau sejarah. Apalagi perginya rame2 kalau sendiri kan males juga. Terus juga lumayan dapet penjelasan-penjelasan di museumnya tanpa pake tur guide nya hehehehe

nampang-depan-stasiun-kota

Apa kesan kamu setelah mengikuti #JJHT?

Wahyu Widyaningrum: Luar biasa. Banyak hal yang bener-bener baru saya tahu. Kantor saya cuma beberapa langkah dari mantan gedung penginapan tamu negara di kompleks Kementerian Keuangan, tapi saya baru tau kalo gedung itu sama sekali nggak ada hubungannya gedung keuangan di zaman Belanda atau Inggris. Satu lagi yang keren: kunjungan ke Candra Naya. Perlu lebih banyak publikasi tentang apa dan kenapa dia ada disitu, supaya banyak yang lebih tau nilai sejarah bangunannya dan nggak berpikir gedung itu dibangun oleh pihak Novotel.

Fifin Haryadi: excited banget. lelah, capek pasti, tapi sedikit terobati dengan bertambahnya pengetahuan tentang sejarah yang ada di Indonesia khususnya di Ibu kota. Dan saya cukup terkejut pas tour kita ke mangga besar ketika mengunjungi hotel Novotel, bahwa dibalik megahnya hotel tersebut berdiri sebuah bangunan yang bersejarah, itu bagi saya ketika melihat bangunan tersebut seperti arkeolog yang menemukan benda bersejarah dari tempat mereka menggali.

Christal Setyobudi: Sangat menarik, jadi lebih banyak tahu tentang peristiwa penting dan bangunan bersejarah

Ruth Esterina: Asik, bisa ke museum2 di jakarta. Dari museum yang selalu dilewatin kalau mau pergi, spt museum perumusan naskah proklamasi, sampai kaya gedung candranaya yang tempatnya nyempil sampai2 ga ngeh kalau di situ ada bangunan bersejarah yang bagus dan masih kerawat banget. Soalnya kan kalau ga ada acara2 kaya gini, pasti jarang mampir ke museum,Walaupun museumnya deket dan gampang di cari kaya museum pembuatan naskah proklamasi. Kalau ga ada acara kaya gini, belum tentu juga ke sana

Sebelum ikutan #JJHT apa kamu membuka situs jakartabytrain.com, punya pendapat soal situs jakartabytrain.com?

Wahyu Widyaningrum: Surga. Informasi mengenai sejarah (saya belum baca semua artikelnya, sih) yang jarang ditulis di tempat lain bisa saya dapatkan disini. Termasuk tentang Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng yang saya baru tau, padahal seminggu bisa tiga kali joging disana -.-

Fifin Haryadi: saya baru mengetahui situs jakartabytrain.com ketika ikutan kuis 🙂 . Tapi jujur semenjak saya mengetahui situs tersebut saya jadi sering mampir kesitus tersebut, banyak sekali info2 yang berguna, terutama referensi tempat-tempat yang ada di ibukota, dan itu bermanfaat sekali bagi turis baik internasional maupun lokal, seperti saya yg menempatkan diri sebagai turis lokal, dikarenakan saya pendatang di ibukota ini, jadi ketika saya telah meminjak kaki di sini, saya langsung mencari dimana lokasi2 yang dulunya hanya bisa saya dengar dan baca, seperti saya pernah mendengarkan lagu yg berjudul gang kelinci, dan saya ketahui gang tersebut berada di Pasar Baru *CMIIW dan gang potlot yg saya ketahui berada di daerah Ps. Minggu dan banyak lagi, dan ketika tour kemarin pengetahuan saya jadi bertambah banyak mengenai daerah2 atau tempat/bangunan yang dulunya cuma bisa saya dapatkan dari membaca dan sekarang bisa saya kunjungi.

Christal Setyobudi: Iya. Sangat membantu untuk masyarakat Jakarta supaya lebih bisa dan percaya diri menggunakan KRL sebagai sarana transportasi. Saya sendiri dulu sangat ingin menggunakan KRL tapi selalu kurang informasi tentang rute, jalur, dan tempat wisata atau museum apa yang bisa terjangkau dengan kereta.

Ruth Esterina: Udah buka situsnya tapi belum liat sampai detail. Bagus, informatif soal tempat2 di jakarta dan gimana kalau mau ke sana

Setelah naik KRL dan TransJakarta, apa kamu punya pendapat tentang dua moda transportasi tersebut?

Wahyu Widyaningrum: Untuk KRL sih udah oke banget. Sistemnya, keretanya, stasiunnya. Untuk Traja, beberapa halte menyedihkan sekali kondisinya. Bahkan di halte sentral Harmoni aja ada yang nggak dipasangin kipas angin. Padahal yang antre segitu banyaknya. Kan gerah :(. Di halte Blok M juga, gimana ceritanya ada pengemis tiba-tiba muncul di tangga menuju halte keberangkatan? Kertas-kertas robekan karcis juga berserakan dimana-mana. Nggak banget.

Fifin Haryadi: Saya salah satu dari yang menikmati kedua moda tersebut. seperti keinginan dari gubernur kita yang menginginkan transportasi massal untuk sedikitnya bisa mengurangi kemacetan di ibu kota, itu saya dukung sekali,, tapi pelaksanaanya yang belum berjalan dengan seperti yg diharapkan, khususnya TransJakarta, belum bisa seperti kata Wagub kita pak Ahok, yang menyatakan bahwa TJ akan lewat atau antara TJ 1 dengan TJ yg lainnya berjarak 3 menit, itu yg belum terealisasi, bisa jadi kurangnya armada TJ atau karena TJ tersebut dikelola oleh pemerintah jadi ya seperti yang kita ketahui bagaimana kinerja pegawai pemerintahan, bukannya jelek tapi kurang maksimal, mungkin sedikit lain ceritanya kalau dikelola oleh swasta yang mana swasta lebih mengedepankan profit dan profit akan meningkat kalau kinerjanya maksimal (itu menurut saya)

Christal Setyobudi: Saya senang melihat perkembangan sarana transportasi di Jakarta ini karena sudah semakin menuju ke arah yang menjanjikan dan seperti di negara maju. Mungkin sekarang hanya harus memastikan komitmen pemerintah supaya jumlah bis dan KRL nya diperbanyak dan memiliki jadwal yang jelas serta tepat waktu. Selain itu juga harus ada sosialisasi yang baik pada masyarakat, misalnya dengan lebih banyak poster yang informatif atau website yang lebih terintegrasi.

Ruth Esterina: Kalau untuk krl sih udah ada kemajuan dan niat untuk memperbaiki kinerja ya, kaya kereta commuter makin banyak, harganya makin terjangkau, dan jadwal kereta pun jadi makin tepat. Cuman mungkin karena harga murah ac nya jadi sedikit panas hahaha

Kalau trans, enak sih krn kan dia punya lintasan sendiri jadi kalau jalan biasa macet, ya jalan trans kadang ga ikutan macet. Cuman minusnya, mobil transjakarta ini perawatannya ga diperhatiin. Banyak mobil yang lantainya udah ga jelas, pintunya juga ga jelas. Padahal kan itu menyangkut keselamatan penumpang juga. Udah ada perbaikan dengan adanya jadwal datang busway yang update yang ada di halte, jadi ga cuman jadwal kira2 atau jadwal seharusnya, tapi jadwal real sesuai dengan keadaan lalulintas. Jadi ga php sama yang mau naik trans.

Terakhir, kalau kita mau bikin tur lagi, ada pendapat tentang apa yang perlu diperbaiki?

Wahyu Widyaningrum: Kalau mau bikin tur lagi, count me in! Tapi jangan ngaret dari jadwal yang udah dibikin. Kemarin aja dijadwalkan selesai pk 14.30, kenyataannya pk 16.15an baru selesai. Kalo masalah penjelasan dari obyek yang dikunjungi, udah keren. Seakan-akan koordinatornya udah lahir pas zaman gedung itu dibangun, jadi tau banget gitu. Haha

Fifin Haryadi: Kalau ada tour lagi kalau bisa lokasinya yang bisa dijangkau oleh kedua moda milik pemerintah tersebut.

Christal Setyobudi: Saya sangat senang mengikuti tur ini. Sarannya mungkin hanya agar kegiatannya berjalan lebih tepat waktu sesuai dengan jadwal yang diberikan 🙂

Ruth Esterina: Secara keseluruhan sih udah ok. sesuai sama jadwal, acaranya informatif. Cuman mungkin sedikit perbaikan di masalah makan memakan hehehe, soalnya kan jalan-jalan jauh, jalan kaki, makan banyak tenaga. Jadi mungkin lain kali, ditetapin mau makan berat di mana yang deket. Jadi mau lanjut tur juga semangat soalnya udah makan.

Note: Gambar diambil secara paksa dari Febriana Fachruddin  dan Miko Ginting

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s