Dari Tramway ke Busway


Jakarta punya sejarah panjang soal transportasi massal berbasis rel. Bahkan, dulu sekali Jakarta punya trem, ketika pada saat yang sama, Negeri Belanda belum memilikinya. Trem pertama yang muncul di Jakarta adalah trem kuda yang sanggup mengangkut 40 penumpang. Trem ini berjalan di atas rel dengan ditarik 4 ekor kuda. Meski trem kuda di Jakarta diresmikan pada 10 Agustus 1867 namun baru mulai beroperasi pada 20 April 1869. Pada saat itu, trem kuda beroperasi setiap hari dan tersedia setiap 5 menit mulai pukul 5.00 hingga pukul 20.00. Harga layanannya pun cukup murah, hanya 10 sen. Sang operator pengelola trem kuda pada saat itu adalah Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM).

trem uap batavia

Meski cukup popular, trem kuda mengalami banyak kendala, mulai dari pengenaan pajak yang sangat tinggi hingga jumlah kematian kuda penarik trem yang tinggi. Lalu, pada 19 September 1881, trem kuda secara perlahan mulai digantikan oleh trem uap yang ditarik oleh lokomotif uap. Operator pengelola trem uap di Jakarta saat itu adalah Nederlandsche Indische Tramweg Maatschappij (NITM). Pada akhirnya trem kuda terpaksa berhenti beroperasi pada 6 Januari 1887.

18 tahun setelah beroperasinya trem uap, pada April 1899, Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM), trem listrik mulai dioprasikan. Trem listrik di Jakarta bahkan beroprasi lebih dahulu sebelum jenis trem yang sama beroperasi di Belanda. Belanda baru mengoperasikan trem listrik di Haarlem-Zandvoort pada Juli 1899.

Namun kemudian trem yang sempat jaya di Jakarta akhirnya lenyap pada 1960 saat Presiden Soekarno memerintahkan agar pengoperasian trem listrik dihentikan. Presiden Soekarno saat itu menginginkan penggunaan trem listrik diganti dengan Jakarta Metro Subway seperti yang digunakan Russia. Sayangnya impian Presiden Soekarno tersebut tak pernah terlaksana, padahal trem sudah terlanjur menghilang dari kota Jakarta.

Jalur trem sepanjang 40 kilometer di Jakarta pada saat itu dibagi menjadi 6 jalur yang diantaranya:

  • Amsterdam Gate – Stadhuisplein (Taman Fatahillah) – Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Utara dan Selatan) – Molenvliet West (Jl. Gajah Mada) – Harmoni
  • Harmoni – Rijswijk (Jl Veteran) – Wilhelmina Park (Masjid Istiqlal) – Pasar Baru – Senen – Kramat – Salemba – Matraman – Meester Cornelis (Jatinegara)
  • Harmoni – Tanah Abang – Kampung Lima Weg (Sarinah) – Tamarin Delaan (Jl Wahid Hasyim) – Kebon Sirih – Kampung Baru (Jalan Cut Mutia) – Kramat
  • Harmoni  – Governor General Palace (Istana Merdeka), Koningsplein (Taman Medan Merdeka) – Stasiun Gambir – Tugu Pahlawan – Kampung Baru (Jalan Cut Mutia)

Note:

Gambar diambil dari sini, sini, sini, dan disini

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s