Saatnya Menikmati Park and Ride di Stasiun KRL


Konsep Park and Ride sebenarnya sudah lama didengungkan, khususnya untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di kota – kota besar. Konsep ini semakin relevan jika melihat tingkat kemacetan yang ada di Jakarta. Koran Sindo melaporkan bahwa pada 2014 diyakini jalanan di Jakarta akan macet total dimana penyebabnya adalah jumlah kendaraan yang tidak seimbang dengan penambahan jalan

Menurut Koran Sindo, berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, pada 2009 lalu jumlah kendaraan bermotor mencapai 9.993.867 unit. Jumlah ini meningkat 15% pada 2010 menjadi 11.362.396 unit, sementara pada 2013 diperkirakan sudah mencapai 15 juta lebih kendaraan yang berkeliaran di Jakarta.

Kompas melaporkan bahwa Jakarta beserta kota – kota satelitnya merupakan kota metropolitan terbesar keenam di dunia yang dihuni oleh 18 jutaorang. Jakarta dengan luas lebih dari 661 kilometer2 pada malam hari memiliki penduduk sekitar 10 juta orang sementara penduduk Jakarta pada siang hari meningkat menjadi 12 juta orang.

Mobilitas penduduk baik di dalam Jakarta ataupun dari dan menuju Jakarta tentu membawa dampak kemacetan yang signifikan seiring dengan tumbuhnya perekonomian nasional. Keluhan mengenai kemacetan sudah sering didengar di berbagai akun media sosial. Tak heran, jika LewatMana.com beserta akun @lewatmana menjadi penting bagi penduduk Jakarta dan kota – kota satelitnya.

Situasi ini menjadi salah satu faktor dimana pemerintah mulai memikirkan secara serius untuk mengembangkan konsep “park and ride”. Mengenai apa itu park and ride bisa dirujuk ke situs Wikipedia yang menjelaskan:

Park-and-ride (or incentive parking) facilities are car parks with connections to public transport that allow commuters and other people headed to city centres to leave their vehicles and transfer to a bus, rail system (rapid transit, light rail, or commuter rail), or carpool for the remainder of the journey. The vehicle is stored in the car park during the day and retrieved when the owner returns. Park-and-rides are generally located in the suburbs of metropolitan areas or on the outer edges of large cities”.

Tempo pada 2012 melaporkan, jika Pemerintah Jakarta sudah memulai untuk membuat fasilitas “park and ride” untuk TransJakarta di Ragunan, Jakarta Selatan. Dan diharapkan akan ada tiga lokasi baru, yaitu di Kalideres, Jakarta Barat; Kampung Rambutan, Jakarta Timur; serta Pulo Gebang, Jakarta Timur. Menariknya, The Jakarta Post pada September 2013 juga melaporkan jika pemerintah Jakarta sedang mengundang perusahaan swasta untuk berinvestasi membangun fasilitas park and ride yang diintegrasikan dengan Halte TransJakarta, Terminal bis, dan Stasiun KRL.

Untuk para pengguna KRL, sejak 2013 PT KAI sudah melakukan tindakan sterilisasi stasiun – stasiun KRL di Jabodetabek. Upaya ini juga dilakukan untuk menunjang konsep park and ride disamping untuk mengubah wajah Stasiun – Stasiun KRL menjadi lebih modern dan teratur. Dan upaya ini relatif berhasil, karena sudah tersedia lahan untuk menampung para komuter yang hendak menggunakan KRL dan menitipkan kendaraan pribadinya di Stasiun.

park-and-ride-di-stasiun

Saya sih cukup senang dengan mulai berjalannya konsep park and ride yang diterapkan di stasiun KRL, mengingat saya adalah pengguna KRL yang sangat bergantung pada KRL untuk menembus kemacetan Jakarta yang semakin menggila.

Awalnya, karena lahan untuk parkir di Stasiun KRL sempit, saya nggak pernah terpikir untuk membeli kendaraan pribadi yang bisa digunakan untuk keperluan transportasi dari rumah menuju stasiun KRL. Namun dengan perubaha situasi ini, tentu membuat saya menjadi berpikir lain. Saya rasanya perlu juga punya motor. Soal punya motor jenis apa, kebetulan saya lagi tertarik untuk memiliki sebuah motor yang jenisnya otomatis. Enak saja sih, nggak perlu susah – susah dan tinggal tarik pedal gasnya.

Sebagai pengguna internet yang setia tentu, pilihan saya untuk mencari apapun pertama kali ya di Internet. Setelah sibuk mencari – cari, saya mampir di beberapa situs yang menyediakan beragam jenis dan merek motor yang bisa saya pilih. Saya sih nggak terlampau mikir apakah harus beli baru atau tidak, tapi yang jelas saya cuma pengen skuter matik, itu saja.

Mio atau Scoopy sepertinya ok, tapi bukan karena saya penggemar fanatik dari Honda atau Yamaha sih, hanya karena bentuknya menurut saya lucu aja. Tapi gara – gara ngebet pengen punya motor matik yang bisa mengantar saya ke stasiun saya akhirnya mendarat di situs komunitas motor matik. Informasi dari situs itu lumayan, dan tidak dikhususkan untuk merek tertentu, yang penting matik.

Berbekal informasi dari internet itu, saya akhirnya memutuskan beli motor matiknya, urusan merek apa yang saya beli, biarkan itu jadi rahasia ya, biar nggak dibilang promosi hehehehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s