Menilai Peradaban Masyarakat


Dahulu ada seorang teman yang bercerita ke saya, kalau mau menilai apakah suatu peradaban masyarakat itu maju atau tidak lihatlah dari fasilitas umumnya seperti toilet umum, telepon umum, taman, lalu lintas, dan juga transportasi umum. Perlakuan pemerintah dan juga warga masyarakat terhadap fasilitas umum, menurutnya bisa menjadi cermin dari peradaban suatu masyarakat.

Dulu sih waktu mendengar hal seperti itu saya ketawa saja. Tapi kemarin itu, timeline di twitter sangat riuh dengan pernyataan Dinda di Path yang dianggap sama sekali tidak simpatik terhadap ibu hamil di KRL

Rasa-rasanya cukup banyak yang mengecam pernyataan Dinda tersebut, tapi si pemilik akun sepertinya tidak merasa bersalah, bahkan sempat melakukan pembelaan diri atas sikapnya tersebut.

Kalau menurut saya, pernyataan Dinda di Path itu adalah bentuk ekstrim dimana tergambar bagaimana tidak beradabnya suatu masyarakat. Dalam bentuk yang lebih lunak kita sering lihat bagaimana kita dipertontonkan oleh sikap sering egois terhadap orang lain. Contohnya adalah berebut kursi saat memasuki KRL atau sering lihatkan orang bisa berlari kencang menuju gate out? Dalam skala yang lain ada juga ketidaktoleran yang bisa kita lihat sehari – hari dalam bentuk – bentuk yang ekstrim seperti Dinda itu di Stasiun dan juga KRL

Pada situasi yang lain, pasti sudah pernah mengalami sulitnya menyeberang jalankan? Dan kalaupun menyeberang di tempat penyeberangan, rasanya sedikit bisa menemukan ada kendaraan yang berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan bagi pejalan kaki menyeberang jalan. Itu nggak cuma bis loh, tapi juga bajaj, motor, dan juga mobil mewah yang entah kenapa sulit untuk berhenti sejenak.

Hal lain yang sering bikin tersenyum adalah pada saat melihat persimpangan lampu merah. Di saat – saat tertentu, biasanya selalu ada kendaraan yang sering banget memaksa masuk meskipun hal itu sudah dipastikan akan menghalangi kendaraan dari arah lain yang akan lewat. Dan bahkan seringkali malah membuat simpul ruwet yang sulit diurai untuk menjadi normal kembali.

Dulu saya sempet berkunjung ke suatu kota dan sempat naik bisnya yang rada – rada mirip TransJakarta. Pada saat itu ada ibu yang sedang menggendong balita yang masuk ke bis dan berdiri di bis itu. Saya sempat meminta salah seorang pelajar yang sedang duduk dan bercanda dengan temannya untuk berdiri. Tapi malah saya yang dipandang aneh dan dianggap aneh saat meminta kursi tersebut.

Egois bukan? Saya rasa keegoisan Dinda bisa jadi ada didalam diri kita masing – masing dengan level yang berbeda – beda. Dan itu bisa tercermin bagaimana sikap pribadi kita saat menggunakan berbagai fasilitas umum sih.

Jadi apakah masih ikut-ikutan nge-bully Dinda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s