Kekuatan dari Nge-tweet


Budaya Antri adalah salah satu tanda dari peradaban masyarakat yang sudah tinggi. Dalam konteks Indonesia, budaya antri memang masih jadi tantangan yang terus menerus harus disosialisasikan dengan baik. Salah satu contoh yang paling nyata adalah budaya antri di KRL saat penumpang mau masuk ke gerbong KRL. Rebutan kursi di KRL menjadi penyakit menahun yang belum juga kunjung bisa diatasi

twitter-245460_640

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menemukan iklan “rebutan kursi” di KRL. Tetapi pagi ini, saya kembali menemukan iklan yang sama.

//platform.twitter.com/widgets.jsSetelah beberapa kali di retweet, akhrinya dapat balasan juga dari yang pasang iklan

//platform.twitter.com/widgets.js

Mudah-mudahan sih segera di tindaklanjuti ya, karena bagaimanapun juga lebih baik iklannya diarahkan untuk menganjurkan antri di KRL atau malah iklan kampanye naik kereta seperti contoh iklan dari perusahaan yang sama ini

//platform.twitter.com/widgets.js

Kadang saya sempat mikir, mana yang lebih baik antara ditulis atau cukup di tweet ya.

Catatan: Gambar ilustrasi didapatkan dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s