Budaya Antri Dengan Tertib


Katanya sih, budaya antri itu mencerminkan kondisi faktual dari sebuah bangsa. Kalau masyarakatnya nggak mau antri, bisa dipastikan kalau pengelolaan negaranya juga sama nggak beresnya. Dari satu sisi, budaya antri sebenarnya sudah mulai terbangun diantara para penumpang KRL. Saya bilang mulai ya, belum bener2 mau antri.

Awalnya waktu lagi mampir di Stasiun Juanda, saya coba iseng nanya penjualan tiket KMT dalam bentuk gelang dan stiker. Sayangnya nggak ada, yang ada cuma tiket KMT yang ukurannya segede kartu ATM berwarna putih. Masih mikir mau belinya, karena sebenernya saya ngincer KMT stikernya.

Karena nggak ada, mata saya langsung memandang orang – orang yang pada antri mau beli tiket. Baru ngeh kalau ternyata ada garis antrian. Sejenak saya coba mengamati, nggak ada yang benar – benar tahu ada garis antrian berwarna kuning di depan loket.

budaya_antri_tiket_IMG_20151226_123739

Intinya sih sebenarnya garis ini cuma buat negesin, kalau orang di depan loe belum kelar beli tiketnya jangan terlampau deket sama orang di depan loe. Problemnya penumpang cuek dan petugasnya juga nggak ada yang ingetin. Mungkin sibuk banget sampai juga lupa ada garis antrian.

budaya_antri_tiket_IMG_20151226_123733

Ya begitulah, yang ada dan baik nggak diikutin dengan baik

Advertisements

One Comment Add yours

  1. @nurulrahma says:

    Duh, masss… Ini problem citizen se-semesta Indonesia Raya deh, kayaknya šŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s