Mengulik Rencana Perkeretaapian Jabodetabek


fake-1909821_1920

Berawal dari cuitan Ayu Utami yang menggambarkan bahwa Jakarta akan segera punya transportasi public yang keren membuat dahi saya berkerut

//platform.twitter.com/widgets.js

Ternyata ada lagi menyebarkan peta ini di facebook melalui mbak Emmy Hafild

Tahun 2020 ini lah jalur MRT Jakarta, pasti terwujudkan mimpi kita jadi kota moderen duni kalau Gubernur yang sekarang…

Dikirim oleh Emmy Hafild pada 8 Maret 2017

Yang saya tahu keduanya merupakan pendukung berat dari Gubernur Ahok. Soal pendukung siapa sih terserah saja. Saya tidak mau berpolemik soal politik apalagi soal politik di Jakarta. Akan tetapi menyebarkan informasi yang salah mengenai perkeretaapian jabodetabek tentu akan membawa konsekuensi serius, karena masyarakat akan menerima informasi yang salah. Mbok kira – kira ajalah masak urusan kereta komuter saja sampai dipolitisasi.

Untuk lebih jelas, mari kita lihat sejenak perjalanan perkeretapiaan jabodetabek ini. Berkaca sejenak, biar nggak heboh tapi nggak jelas.

Pada 2013, pemerintah pusat membuat Masterplan Perkeretapiaan Jabodetabek 2020Kompas, Detik, Antara, dan juga RMOL mengangkat berita soal masterplan ini. Di Februari 2014, bahkan ada paper yang membahas masterplan ini dari Kementerian Keuangan.

Kalau orang biasa yang nggak pernah naik kereta komuter di Jakarta pasti akan terpana dan mengiyakan pendapat dua orang seleb di dunia maya tersebut. Terutama mengenai klaim bahwa perkeretaapian jakarta adalah hasil karya Gubernur Jakarta.

Karena itu saya akan jelaskan sedikit mengenai beberapa kesalahan narasi yang disebarluaskan oleh kedua selebritis tersebut

Pertama, Jalur MRT hanya punya dua jalur yaitu North Sout Line dan East West Line. North South Line tadinya mengambil Rute Lebak Bulus – Kampung Bandan. Namun sekarang  berubah menjadi Lebak Bulus – Ancol Timur. Sementara itu yang east west line adalah rute Cikarang – Balaraja.

Di peta itu, north south line stasiun terminusnya masih di Kampung Bandan padahal sudah berubah ke Ancol Timur. Sementara rute MRT yang east – west line malah tidak ada di peta tersebut. Wajar kalau nggak ada di peta karena belum jelas apakah jadi dibangun atau tidak.

Kedua, Jakarta sudah punya transportasi berbasis rel yaitu KRL. Di peta itu juga tercantum identifikasi KRL yang entah kenapa sengaja dilupakan oleh keduanya. Dan menganggap semua itu jalur MRT. Padahal di peta itu sebagian besar adalah peta rute KRL.

Ketiga. Jika peta itu ditilik lebih jauh, ada jalur lain selain MRT yaitu Jalur LRT Pemprov Jakarta dan Jalur LRT Pemerintah Pusat.

LRT Pemerintah Pusat dibangun oleh PT Adhi Karya yang akan meliputi 6 rute yaitu: Rute Cawang – Cibubur, Rute Cawang – Kuningan – Dukuh Atas, Rute Cawang – Bekasi Timur, Rute Dukuh Atas – Palmerah Senayan, Rute Cibubur – Bogor, dan Rute Palmerah – Grogol / Bogor

Sementara itu LRT Pemerintah Jakarta akan meliputi 7 rute yaitu : Rute Kebayoran Lama – Kelapa Gading, Rute Tanah Abang – Pulo Mas, Rute Joglo – Tanah Abang, Rute Puri Kembangan – Tanah Abang, Rute Pesing – Kelapa Gading, Rute Pesing – Bandara Soekarno Hatta, dan rute Cempaka Putih – Ancol.

Jika menilik pada peta tersebut maka hanya ada 4 jalur LRT yaitu

  • Rute Gading – Kebayoran (LRT Pemerintah Jakarta)
  • Rute Galur – Bandara Soekarno Hatta (LRT Pemerintah Jakarta)
  • Rute Sudirman – Bekasi (LRT Pemerintah Pusat)
  • Rute Sudirman – Cibubur (LRT Pemerintah Pusat)

Intinya saya mau bilang, tidak semua yang dicantumkan di peta itu adalah pekerjaan dari pemerintah Jakarta.  Kontan juga punya visualisasi yang bagus mengenai perkerataapian di Jabodetabek meski tidak cukup update juga.

Btw, Saya baru tahu jika peta yang disebar kedua selebritis tersebut ternyata nyomot dari sini dan ada penjelasannya jika:

“thanks to Losbp for providing clear information on all concrete plans for rail-based public transport in the Greater Jakarta area, I prepared the following map. While my previous map of the Transjakarta BRT network was based on the London Tube map, I based this map on Berlin’s S+U-Bahn map.

The map includes the following lines (with made-up line numbers):

The existing KA Commuter railway lines (K1-K6), with some planned extensions, and all stations (even if the KA Commuter trains currently do not stop there).

A new KA Commuter railway line connecting the two airports (K7).

The MRT line that is currently under construction, with both phases planned to be operational in 2019 or 2020 (M1).

The two ‘priority’ LRT light rail lines planned by the DKI Jakarta government (L1-L2).

The three first stages of the LRT network by Adhi Karya, together forming two lines (L3-L4)“

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Choirul Huda says:

    hmm… menarik mas analisisnya
    kebetulan jarang naik ka/cl
    tapi ya era pilkada sekarang apa2 dikaitkan dengan calon
    *no offense

    “Di peta itu, north south line stasiun terminusnya masih di Kampung Bandan padahal sudah berubah ke Ancol Timur.” wah deket rumah nih seharusnya 🙂

    Like

  2. Anggara says:

    ya begitulah mas *sedih

    Like

  3. mrfazry says:

    Saya mau tanya. Kenapa LRT pemerintah pusat sampai Bogor dan Bekasi? Benarkah jumlah kereta/car per rangkaian/set hanya ada 3? Kalau mau dibikin suburban/commuter, di luar penamaan, apakah 3 kereta itu dapat menampung pengguna layanan dengan baik? Jika jarak antarstasiun terlalu jauh, bisakah di kemudian hari diselipkan stasiun baru di tengahnya?

    Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s