Menggugat Underpass di Stasiun @CommuterLine


Saya sungguh tidak paham kenapa underpass harus di bangun di stasiun – stasiun KRL yang non transit. Ada banyak persoalan dengan underpass sebenarnya yang bisa di sampaikan.

Pertama, nggak semua yang terlihat sehat itu benar – benar sehat. Bayangkan kalau kamu harus naik dan turun tangga underpass hanya untuk menyeberang ke peron sebelah, padahal kamu sedang sakit berat ataupun misalnya yang punya masalah dengan tulang di kaki atau persendian

Kedua, ada potensi tabrakan antar penumpang, karena underpass yang dibangun untuk menyeberang antar peron sebenarnya cuma ada satu.

Ketiga, bagaimana dengan orang tua dengan balita atau bayi. Nggak kebayang kalau harus menggendong dan turun serta naik tangga underpass

Dan ada beberapa isu lagi misalnya soal kebersihan dan juga keamanan di underpass.

Tapi kan khusus untuk disabilitas ada petugas yang siap menyeberangkan tanpa lewat underpass? Lah memangnya mereka akan selalu ada?

Dan menurut saya isunya bukan soal petugas itu ada atau tidak sih. Tapi bagaimana membuat desain agar orang merasa nyaman sekaligus aman untuk bisa menyeberang antar peron.

Kalau isunya adalah penumpang menyeberangi rel khusus pada jam sibuk untuk keluar dan masuk peron di stasiun mestinya bukan underpass yang dibangun. Karena kejadian yang terjadi adalah disebabkan adanya pintu keluar dan masuk di tempat yang persis sama.

Kalau ini kejadiannya, pada saat jam sibuk pasti akan antrian yang mengular hingga di rel.

Misalnya di stasiun tempat saya tinggal (lihat gambar), akhirnya di setiap pagi dan malam pada saat jam sibuk ya pasti ada yang antri sampai ke rel. Lah pintu keluar dan masuknya sama

Bagaimana kalau diubah menjadi seperti gambar dibawah? Dengan mengatur pola pergerakan penumpang, dengan memisahkan pintu masuk dan pintu keluar sebenarnya memecahkan masalah antrian hingga ke rel pada jam sibuk.

Saya akui underpass mungkin diperlukan, namun tetap harus memperhatikan kebutuhan semua orang, termasuk kebutuhan bagi orang – orang yang terlihat sehat. Dan sedapat mungkin kalaupun dibangun underpass atapun tangga ke lantai dua, maka tidak ada lagi pengecualian tertentu.

Karena itu mestinya setiap pembangunan juga bisa mengacu pada manual yang dikembangkan oleh PBB atau bisa juga mempelajari pengalaman di Negara lain yang telah menerapkan mobilitas yang cukup baik.

Ya ini cuma sekedar usul, sama seperti usulan soal perubahan arus penumpang di stasiun Tanah Abang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s