Review: Manusia-Manusia di dalam Kereta Pelaju.


Oleh: Ali Aulia Ramly

Anggara menerima tantangan untuk mengirim (post) foto hitam putih. Pilihan Anggara adalah mengirim foto yang dekat dengan kesehariannya, yang walau bukan merupakan pekerjaan penuh selalu dikerjakan sepenuh hati. Anggara memilih memotret di kereta pelaju (commuter line). Satu syarat ia abaikan, yaitu “tidak ada manusia.” Hasil foto yang ia kirimkan di Facebook-nya, bagi saya, adalah sesuatu yang menggelitik dan mengingatkan betapa sepinya hidup (sebagian) manusia bahkan ketika mereka berada dalam keramaian. Tanpa ijin Mas Anggara, foto itu saya beri judul “manusia-manusia di dalam kereta pelaju.”

Di Indonesia, foto tentang manusia dengan kereta dan di dalam kereta bukanlah foto yang langka. Di masa yang belum lama berlalu, setiap tahun menjelang Idulfitri kita disajikan banyak foto para pemudik berebut naik kereta, atau foto sebagian orang yang sudah berada di dalam kereta (diambil dari luar kereta). Biasanya foto-foto tersebut menggambarkan perjuangan: orang-orang yang mengangkat barang (bahkan anak kecil dan bayi!!) dan mencoba memasukkannya ke kereta melalui jendela, wajah-wajah tergencet di jendela pintu kereta, wajah yang lelah (namun penuh kemenangan dan harapan) menatap keluar jendela. Mungkin karena keadaan kereta menjadi lebih baik, beberapa tahun ini foto-foto seperti itu menghilang. Gambaran tentang penumpang yang duduk tenang dan nyaman tampaknya bukan berita yang harus disebarkan. Sebagai gantinya, di masa kini sesekali muncul foto di media massa tentang kereta pelaju dengan gambar penumpang yang berdiri sesak. Foto penumpang kereta pelaju ini menggantikan berbagai foto yang dulu muncul tentang penumpang yang memenuhi atap kereta, baik foto dari samping kereta atau dari foto jarak dekat yang memberi gambar jelas beragam ekspresi wajah para penumpang di atap kereta.

Sebagian besar karya juru foto profesional atau pewarta foto tentang penumpang di dalam kereta berciri sama: DIAMBIL DARI LUAR KERETA. Sepanjang yang saya ketahui, foto yang diambil dari dalam kereta biasanya merupakan hasil swafoto yang disebar di media sosial atau foto penumpang lain yang bertindak tidak sesuai norma (misalnya pemuda yang tidur di bangku prioritas dengan ibu-ibu atau lansia berdiri). (Pengecualian dari swafoto adalah karya Ahmad Salman alias Denny. Denny adalah juru foto profesional, kurator, dan pendidik dokumentasi visul).

Situasi berbada muncul di Amerika Serikat atau beberapa negara Eropa: penumpang dan situasi DI DALAM KERETA yang sejenis kereta pelaju (metro, subway) adalah sasaran juru foto terkemuka. Buku tentang orang-orang New York karya juru foto koperasi jurufoto Magnum (diterbitkan oleh Phaidon, penerbit dengan spesialisasi karya seni kontemporer berhias berbagai foto dari dalam kereta. Salah satu juru foto Magnum, Bruce Davidson, bahkan menghasilkan publikasi secara khusus berjudul Subway

Kembali ke “manusia-manusia di dalam kereta pelaju” karya Mas Anggara – Karya tersebut memaksa saya untuk membuka dan memperhatikan kembali “Subway train interior” yang dibuat oleh Rene Burri pada 1973. “Subway train interior” memperlihatkan sejumlah orang yang, dalam pandangan saya (dan mungkin juga dalam pandangan Rene) sibuk dengan dunianya masing-masing. Orang-orang yang berada di tempat yang sama tetapi terasing satu dengan lainnya. Dua perempuan yang memandang keluar, seorang lelaki paruh baya (dengan topi dan jaket yang menunjukkan ia dari kelas menengah ke atas) yang sedang membaca (?), seorang lelaki berpakaian terang yang termenung, seorang pemuda kulit hitam yang berusaha istirahat dan mengangkat kaki ke sandaran kursi. Kecuali kedua perempuan yang tampak berinteraksi satu sama lain, penumpang yang lain tidak berhubungan dengan yang lain.

Selain “kisah” yang muncul dari keterasingan satu dengan lainnya, karya Rene Burri secara grafis adalah karya yang kuat (Tidak perlu diragukan karena salah satu kekuatan dari Rene adalah komposisi dan garis-garis grafis “yang muncul” dari posisi, arah gerakan, perbedaaan warna atau tepatnya gelap terang di karya-karyanya). Kita dapat menarik garis teratur dari subyek-subyek di “Subway train interior.” Mata kita juga dapat menari dari hitam atau gelap ke putih atau terang dengan langkah yang teratur.

A lovely morning ride with @krlcommuterline

A post shared by Jakarta By Train (@jakartabytrain) on

“Manusia-manusia di dalam kereta pelaju” sejujurnya, tidak memiliki kekayaan komposisi yang dimiliki “Subway train interior.” Selain garis perspektif sederhana dan itupun tidak jelas (dari posisi Mas Anggara ke arah yang jauh), tidak ada penanda komposisi. Tidak ada titik yang menjadi fokus, latar depan, latar belakang, highlight, pengarah, dan sebagainya. Tetapi bukan masalah. Seperti kata Rene Burri sendiri, “composition isn’t the most important thing in a photograph— the emotional content and impact of an image is the most important thing.”

Ya, the emotional content, kekuatan emosional ini lah yang memberi nilai pada “manusia-manusia di dalam kereta pelaju.” Foto ini mengingatkan kepada saya tentang apa yang saya rasakan ketika berada di dalam kereta: sendirian, bahkan ketika sedang padat dipenuhi penumpang. Mas Anggara yang setiap hari menggunakan kereta pelaju tentu merasakan hal yang sama. Entah dengan mereka yang menjadi subyek karya fotonya. Mungkin gawai yang mereka pegang membantu mereka untuk tidak (merasa) sendirian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s